Wanita, Kota dan Mantan

2 Apr 2015

Mereka seperti satu ekosistem yang saling mempengaruhi kehidupan saya. Entah, bagaimana penjabarannya. Yang jelas, mereka saya cintai. Sedikit perenungan saat menelusuri perjalanan pagi ini.

Anggap saja ini sebuah film omnibus yang memiliki banyak cerita namun tetap satu film. Dimulai dari wanita. Dimana saya melihat wanita disini begitu eksotis, tidak terlalu cantik tapi membuat nafsu saya terus meningkat.

Wanita

Dengan usia saya sekarang, wajar bila wanita semakin banyak menjadi pembahasan penting dalam kehidupan saya. Lewat tulisan di blog maupun twitter, wanita selalu akan menarik siapa saja yang menganggungkan keindahan.

Wanita pertama yang membuat saya luluh di kota ini bukanlah teman satu kampus saya. Seseorang yang saya kenal hanya lewat sebuah komunikasi pada saat itu masih menggunakan SMS dan telpon. Pertama kali menginjakkan kaki di Semarang itu tahun 2007.

Saya dan dia punya panggilan akrab layaknya dua pasang kekasih. Wajahnya hanya bisa saya lihat lewat jejaring sosial semacam Friendster kala itu. Semarang tulen! Eksotis dan manis.

Hubungan itu tak sengaja membawa saya lebih serius dan membuat kami memiliki cerita indah sebagai pasangan. Meski begitu, sampai sekarang saya tak pernah bisa menemuinya. Entahlah, apakah doi sembunyi atau saya tahu diri dengan kapasitas saya sebagai pria yang belum berpikir dewasa waktu itu.

Mencintai hanya bisa mengungkapkan lewat perasaan. Tak pernah mendapat belasan untuk bisa bertemu. Hanya bayang semu yang diidamkan pria yang berharap dapat bergandengan tangan. Pupus sudah!

Kota

Pada awalnya saya masih menjadi pria normal yang kehidupannya pulang pergi kuliah dengan mengemban misi lulus tepat waktu. Beberapa tahun menjalani, saya banyak kenal dengan teman-teman baru. Hingga membawa saya ke suatu titik dimana cikal bakal dotsemarang bertumbuh.

Tak ada dalam kamus waktu itu untuk mencintai kota ini begitu besar. Apa yang bisa diberikan dari kota ini untuk saya selain kenangan manis ditinggal pergi teman, rekan dan sahabat. Mereka tidak pergi, tapi saya yang lebih mengabdi dengan kota ini.

Menjadi blogger adalah alasan kuat hingga saat ini saya masih mencintai kota ini. Ibarat mencintai wanita, saya sangat setia. Buktinya, saya tak pernah dapat apa-apa dari apa yang saya cintai. Sebuah konsistensi adalah bayaran dari apa yang saya mulai.

Pertanyaannya, sampai kapan saya bertahan? Mengingat umur yang tak muda lagi dan tak ada wanita yang mendampingi. Dua cinta yang bertepuk sebelah tangan. Mencintai ibaratkan memberi dan tak berharap meminta kembali.

Mantan

Bila kota dapat saya cintai tanpa pamrih, mengapa harus ada kata mantan? Apakah pria seperti saya tak memiliki arti hingga memutuskan memanggil sang wanita sebagai mantan.

Wanita memang lebih indah dari sekedar mencintai kota. Kota dapat dibranding dengan lebih indah, sedangkan mantan tak mungkin dibranding untuk lebih indah. Mereka tentu akan menemukan sesuatu yang lebih untuk pasangan mereka.

Kota hanya bisa diam, tak bicara dan menunggu cinta dari masyarakatnya. Sedangkan mantan, wanita yang begitu indah, ingin dicintai tapi tak pernah diam untuk selalu mengatakan pergi kala mereka tersakiti.

Apakah ini makna dari apa yang diciptakan Tuhan. Perlakukan mereka dengan sebaik mungkin maka mereka juga akan mencintaimu dengan sebaik apa yang kamu berikan. Kalau tidak, selamat tinggal.

Wanita, kota dan mantan, memiliki keindahan yang selalu diharapkan para pria yang bertahan. Pria yang egois, memiliki kekuatan dan hati nurani untuk tidak meminta balik apa yang diberikan.

Tahun ini, mereka masih sama. Ingin terus dicintai tapi tak ingin mencintai. Ingin diberi tapi tak pernah mau memberi. Ingin didekati dengan penuh perjuangan tapi tetap ditinggalin.

Adakah cerita dongeng yang berakhir indah dimana mereka memberi kasih sayangnya saat sang pria ini rapuh, lelah dan sudah capek untuk selalu memberi. Adakah cerita seperti itu?

Mereka akan selalu tetap sama dan terus dicintai dengan berbagai karakter pria. Jika cocok, mereka bahagia tanpa memperdulikan para pria yang pernah berjasa mencintainya.

Semoga bulan April ini, emansipasi wanita tidak lagi soal bercerita tetap pria yang harus mencinta. Sesekali para wanita berjuang memberikan cinta. Sesekali Kota ini menjadi suatu tempat kenangan indah soal kita. Sesekali tak ada yang namanya mantan lagi.

**Inspirasi yang datang saat naik sepeda pagi tadi

Salam blogger


TAGS Laki-laki


-

Author

Search

Recent Post