Tantangan Event yang Tidak Ada Promosi Offline

30 Mar 2015

Pekan ini, hidup saya seolah ditantang. Ditantang oleh sesuatu yang biasa saya kerjakan. Apalagi menyangkut event, dimana jumlah kehadiran peserta adalah bentuk real dari strategi promosi.

Kelar juga urusan bantu promosi acara Pameran Film di Lawang Sewu. Pameran yang diselenggarakan dari tanggal 28-29 Maret 2015 ini bertepatan dengan hari Film Nasional yang jatuh sehari setelahnya, 30 Maret.

No spanduk no baliho

Apa yang dipikirkan oleh panitia atau penyelenggara saat menggelar event tapi tidak banyak promosi offline semacam spanduk atau baliho di jalan? Gila, saya bantu jawab. Apalagi skala event Jawa Tengah.

Beruntung event ini digelar di gedung Lawang Sewu. Yang notabene kehadiran pengunjung bangunan ini secara otomatis akan terkeruk atau terpancing untuk melihat pameran ini. Setidaknya.

Saya harus acungi jempol untuk panitia ini. Karena, baru kali ini saya menemukan hal begini. Memang ini antimainstream, tapi kan ini mengerikan juga. Masa spanduk dipagar Lawang Sewu aja yang menggambarkan bahwa ada event didalam.

Usaha membranding event

Maaf, saya menyebut gila diatas. Ini hanya bentuk ungakapan saya untuk menggambarkan topnya panitia ini yang mampu menghandle acara yang merupakan program dari provinsi Jawa Tengah.

Untuk event ini, saya diajak bekerjasama untuk membantu mereka dalam hal strategi promosi. Karena saya bekerja di dotsemarang, yang saya bisa bantu hanyalah promosi online atau digital marketing.

Kemampuan akun socmed dotsemarang memang tak sebesar admin-admin kota yang saat ini semakin keren saja. Bahkan, saya sudah terlampau jauh dari segi followers mulai dari twitter maupun instagram.

Namun, saya tak patah arang. Dotsemarang yang memiliki passion tersendiri ini, khususnya blogger, adalah kekuatan yang sudah terbangun sejak beberapa tahun terakhir. Alhamdulillah, untuk membantu acara seperti ini sudah sering saya dan dotsemarang lakukan. (Baca : punya pengalaman)

Harapan dan kenyataan

Gencar di media online belum tentu semenarik dalam kehidupan nyata. Hari ini saya kembali belajar tentang pasar semarang. Khususnya geliat masyarakat dan animo yang dibangun dengan cara apapun.

Bila digital marketing bisa kita ukur dengan like, love, mention dan retweet, tapi tidak dalam kehidupan nyata. Semarang hingga kini masih menjadi pasar yang kurang menyenangkan bagi sebagian penggiat event, hiburan dan lainnya.

Dikasih gratis bisa gak datang. Berbayar, malah tambah gak datang. Dan sebaliknya. Inilah tantangan yang super duper mengharukan bagi setiap panitia bila mengukur jumlah kehadiran pengunjung menjadi patokan.

Jujur saja, acara ini terkesan kurang diminati. Apalagi baru pertama kali digelar. Lawang sewu yang biasanya rame pengunjung setiap weekend seperti juga terhanyut dalam rangkaian angka kalender. Dimana tanggal 28-29 adalah tanggal tua yang biasa dikeluhkan.

Beberapa tulisan sudah saya masukkan di website dotsemarang. Silahkan simak juga di akun instagram dotsemarang. Dari apa yang saya ceritakan ini tentu saya banyak mendapatkan pembelajaran dan pengalaman.

Pertama kali saya membantu event yang sama sekali tak ada publikasi offline. Tidak ada spanduk atau baliho yang biasanya ditaruh dipinggir jalan.

Pertama kalinya juga belajar membranding sebuah event dengan kekuatan digital marketing. Dan pertama kalinya juga melihat Hysteria yang ikutan acara seperti event ini. *loh.

Terlepas dari semua yang tantangan ini, saya salut pokoknya sama panitia. Bukan soal kerjasama dengan dotsemarang, tapi berusaha tampil mengambil resiko yang sangat besar.

Salam blogger


TAGS dotsemarang


-

Author

Search

Recent Post