Masih Belum Pentingnya Social Media Untuk Sebuah Event di Semarang?
10 September 2012 oleh asmarie
Memang dibutuhkan sebuah sikap terhadap perubahan yang terjadi? Namun tidak semua masyarakat mengetahui perubahan itu dapat berdampak jadi significant. Social media adalah bentuk perubahan dari tatanan masyarakat di era sekarang. Tapi, masih belum dibutuhkan bagi mereka yang masih berkaca dengan yang sudah-sudah.
Sabtu (8/9) kemaren, niat saya adalah meliburkan diri dari rutinitas depan komputer dan ketik mengetik. Tapi apa daya, jika berbicara gaya saya kembali harus ngelakuin masa jaya saya sebagai blogger. Menulis sesuatu yang bertujuan peduli, berbagi dan mengetahui apa yang terjadi disekitar.
Banyak yang terjadi dihari sabtu kemaren. Semarang kota tercinta ini, banyak sekali event yang sedang berlangsung. Dan hebatnya, saya sebagai onliner harus tertarik untuk datang dan melihat semua itu berlangsung tanpa adanya gembar-gembor melalui dunia maya.
Yah, spanduk-spanduk masih menjadi alternatif terbesar bagi pembuat event - EO penyelenggara yang udah memiliki strategi khusus bagi pasar Jawa Tengah ini. Salah satu event yang memaknai Jawa Tengah akan jaya adalah Pameran produk Inovasi.
Saya tercengang dengan gelaran ini yang super luar biasa memberikan banyak pengalaman baru bagi pengunjung. Tidak saja instansi pemerintah yang hadir disana, perguruan tinggi dan Sekolah-sekolah yang ada di Jawa Tengah turut serta meramaikan.
Banyak sekali inovasi yang ada disana. Saya malah jadi tahu kalau ada pakaian yang dibuat dari kertas, alat-alat yang dapat mempermudah pekerjaan manusia dan lain sebagainya. Tapi sayangnya, gaungnya di dunia maya tak begitu besar.
Sama halnya dengan festival ini. Event yang digelar untuk melahirkan generasi baru yang akan tahu ada bangunan ini di Semarang, seharusnya memiliki gaung didunia maya. Bangunan ini ternyata sangat bersejarah. Bayangkan selama tinggal di Semarang, baru kali ini saya tahu kalau ada bangunan ini.
Mengapa ini bisa terjadi?
Sepertinya generasi orang-orang yang benar-benar tahu perkembangan teknologi dan orang-orang yang masih punya jurus ampuh dalam bidang pembuat event masih ada garis pembatas. Generasi aktif social media seperti blogger dan onliner memang adalah orang yang super bawel di dunia maya.

Berbeda jauh dengan orang-orang yang aktif didunia masyarakat yang masih mengandalkan word of the mount dan sepasang spanduk diberbagai jalan raya. Saya masih berkaca dengan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Surabaya dan lainnya yang selalu menggandeng onliner dan blogger dalam mengkampanyekan acara mereka.
Tapi,jangan harap di Semarang semua itu bisa terjadi. Saya lihat tanpa social media pun, acara itu udah sangat rame. Fenomena social media di Semarang memang tak begitu digubris disini. Kembali lagi saya mengacak pinggang. Yah, adem-adem ayem saja.
Jadi jangan heran, blogger dan onliner disini kalao dikumpulin masih bisa dihitung. Kalo adapun pasti itu-itu lagi. Saya dan kalian sudah cukup tahu tentunya. Antusias disini akan buming bila ada sesuatu yang melegit di hati saja.
Mengapa harus social media?
Memang dua pergelaran yang dilaksanakan sabtu kemaren, terlihat ramai. Ini dikarenakan setiap orang yang datang kesana, baik instansi maupun lembaga dan perusahaan atau juga pendidik, pasti memiliki masa tersendiri. Jadi, gak perlu repot mencari masa bukan.

Tapi apa yang diharapkan dengan event ini. Gaungnya hanya akan tersebar di Semarang saja atau Jawa Tengah bila itu diedarkan dari satu orang ke orang lain. Tapi coba bayangkan jika mereka menggunakan social media.
Apa yang diomongin dan memiliki nilai informasi pasti lebih banyak orang lagi yang tahu bahwa di Semarang ada event sekeren ini. Belum lagi menggandeng blogger yang sudah sering publisitas diranah dunia maya khususnya search engine.
Berapa banyak warga Indonesia yang akan membaca tulisan tersebut. Oh ya, bukan Indonesia saja, tapi hingga keluar negeri dimana banyak sekali orang-orang Indonesia yang masih ada disana, tiba-tiba kangen dan ingin tahu perkembangan kampung tercintanya.
Kembali ke tradisi
Yah, saya paham. Orang Seni akan konsentrasi ke seni. Orang pembuat event hanya akan berkonsentrasi siapa yang datang ke acara mereka. Meski mereka adalah pengguna social media, tapi SEKALI LAGI, mereka hanya pengguna bukan PEMBUAT informasi.
Semoga Semarang makin Jaya dan orang-orang seperti saya bukan orang yang menghasut dengan gaya apa dayanya. Kita harus selalu berubah, memperbaruhi, dan meremajakan diri. Kalau tidak, kita akan membatu.
Perubahan bisa dianggap menakutkan, bisa juga dianggap sebagai kesempatan. Mana yang bisa kita peroleh, tergantung pada sikap kita terhadap keduanya - Ernest C. Wilson
.
Salam blogger








Nama saya Asmari, Ingin tahu lebih lengkap tentang saya, silahkan baca profil lengkap saya 
http://zemchuzinka63.ru/
harus di jadikan sebuah motipasi.
Thank you!