Ingin Jadi Bos atau Pegawai
8 Agustus 2012 oleh asmarie
- Foto : Amarhaq
Katanya, punya gaji tinggi itu hidupnya makmur, aman dan sejahtera. Apalagi dengan posisi yang terbilang tinggi. Itu juga kalo tinggi, kalo tetap gak berubah? Lihat aja, orang yang kerjaannya mengatur lalu lintas, cuma hanya nyeberangin mobil. Berapa gajinya jika dihitung perbulan?
Saya pernah berpikir ketika orang yang bekerja sebagai penyeberang kendaraan ini, gantinya polisi, dibayar seribu rupiah permobil. Dari pagi hingga sore. Dan rata-rata ada puluhan mobil dan bahkan ratusan. Misalnya 100 mobil. Kalo dikali 30 hari, berapa ia dapatkan? 3 juta, sob! Wow….
Gak kebayangkan, dengan seorang lulusan sarjana yang kerjanya sebagai pegawai atau karyawan hanya bergaji dibawah 3 juta. Itu, sarjana lho. Punya tittle dan mereka pintar diatas rata-rata. Bedanya, kerja sebagai pegawai atau karyawan punya fasilitas dan difasilitasi sedangkan tukang nyeberang diatas, harus menerima nasib kepanasan dan kehujanan.
Ini bukan lagi masalah prinsip atau cita-cita yang dikatakan diwaktu kecil dulu tapi keinginan yang berasal dari lingkungan atau diri sendiri dan keluarga. Saya melihat sekitar saya, bahwa tekanan lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap mental seseorang. Kalo udah gini, mau gimana lagi.
Gak enaknya jadi bos
Mengawali karir di bidang perbloggeran, saya seakan mencari jarum jahit ditumpukan jerami. Satu persatu, teman dan rekan saya udah menjadi orang-orang yang terbilang berprofesi atau pekerja. Ada juga yang udah bekerja tapi harus keluar dan mencari lagi. Padahal yang saya tahu mereka adalah orang-orang hebat semua saat masih kuliah maupun masih sekolah.
Keputusan menjadikan blogger sebagai pekerjaan tak lain karna sebuah semangat entrepreneur yang banyak mengajarkan saya bahwa mandiri adalah satu-satunya harapan. Saya belajar dari om Bob Sadino, Thomas AlVa Edison, dan Nabi Muhammad SAW. Mereka mengawali dengan hidup yang sulit tapi bermanfaat bagi banyak orang.
Setelah yakin dengan keputusan tersebut, saya mulai merubah image komunitas menjadi manajemen. Langkah besar tentunya. Saya punya kata-kata mutiara sedikit, bahwa dibutuhkan mangkuk yang besar untuk mencapai sesuatu yang besar, sebaliknya jika punya mangkuk yang kecil maka sesuatu yang diraih juga sangat kecil.
Dengan prinsip dan keinginan tersebut, akhirnya saya punya kantor meski mengandalkan tempat kos yang seharga perbulannya 550 ribu. Saya menjadi bos dikantor tersebut. Tidak butuh berapa tahun untuk berada diatas jika ibaratkan kerja dikantor atau sebuah perusahaan.
Lihat saja, semua orang pasti berkeinginan naik jabatan. Tapi butuh proses kan! Proses itu adalah sesuatu yang harus dijalani. Dengan gaji yang udah standar biasanya orang udah cukup puas berada di titik aman tersebut.
Berbeda dengan saya. Bos yang tidak ada yang menggaji tapi bos yang mikirin gaji karyawan atau pegawainya. Darimana duitnya? Menjual informasi atau menggarap sebuah event. Itulah pemasukan saya meski harus ngorbanin tabungan yang udah bolong tiap bulannya. Alias gak ada sama sekali.
Jujur ketika saya melangkah disini, pasti diri saya yang lain mensugesti aneh-aneh. Kamu bodoh! Ngapain pontang-panting ngelakuin sesuatu yang gak penting. Baikan kamu lulus dan kerja ditempat asalmu.
Oke..oke saya akan pasti lulus. Tapi saya nggak ingin menjadi orang kebanyakan. Memang jadi bos itu gak enak, tapi tunggu beberapa tahun lagi. Semua akan indah pada waktunya.
Tantangan sebenarnya
Guys, menjadi bloggerprenur itu memang gak enak. Kebanyakan mikirin orang lain daripada diri sendiri. Ngorbanin waktu buat sesuatu yang kadang gak penting bagi orang lain. Beda dengan orang yang udah aman, mikirnya aku harus beli ini dan itu atau mikirin keluarga. Oh ya, saya belum nikah *plak.
Nah, menjadi blogger, saya banyak belajar bagaimana harus berdiri dikaki sendiri. Memaksimalkan uang yang didapat dari keluarga dan dibuang untuk pekerjaan ini. Menyesal? Nggak lah. Tapi itu adalah prinsip saya. Saya beda dengan orang lain.
Lalu tantangannya?
Ini dia yang saya temui hampir setengah tahun ini. Berbagai pihak memandang saya seakan tidak punya harapan, gak konsisten atau menyia-nyiakan hidup semasih muda. Kuliah ditinggalin dan ngabisin uang.
Anehnya orang-orang yang demikian adalah orang-orang yang senior diatas saya. Maklum, pengalaman mereka sudah diatas rata-rata. Teguran dan peringatannya memang bukan untuk menjatuhkan tapi memberikan yang terbaik.
Tapi jika dipikir lagi, kebanyakan juga orang seperti diatas, sekarang ini memiliki jiwa entrepreneur adalah orang-orang yang dulunya sudah aman sebelumnya. Mereka pernah ngerasin bekerja di sebuah perusahaan atau kantor. Mereka udah ngerasain pahit manisnya bekerja.
Itu masalahnya, saya belum nyebur di sana dan malah ngelangkahin, alhasil. Saya berjalan tanpa henti. Belajar mencari pengalaman untuk diri sendiri dan berpikir menyelesaikan masalah sendiri.
Lalu, apakah rekan kerja yang ada di kantor itu berarti menjadi anak buah? Saya punya prinsip, bahwa apa yang kita kerjakan di kantor adalah sama diatas dan sama dibawah. Punya ide silahkan dieksekusi, jangan sering bergantung saya. Saya lebih bertanggung jawab ke banyak pihak saja.
Mungkin ini dulu cerita saya. Mudahan jika saya ingat saya ingin berbagi lagi dengan teman-teman yang masih berkeinginan menjadi entreprenuer muda seperti kebanyakan. Memang gak enak kala menjadi bos, tapi pengalamannya dari bawah hingga keatas itulah yang membuat sejarah membangun itu menarik.
Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan jika kita tidak memulainya sekarang dan hanya menunggu. Curahkanlah seluruh tenaga dan pikiran untuk melakukan pekerjaan dan kesempatan yang bisa dilakukan saat ini.
Lakukanlah tugas sebaik-baiknya selama kita memiliki waktu. Jangan membiarkan waktu berlalu, dan sia-sia.
Trims, salam blogger








Nama saya Asmari, Ingin tahu lebih lengkap tentang saya, silahkan baca profil lengkap saya 
Suamiku juga ketika memilih jadi komikus banyak memandang sebelah mata. Dia lulus kuliah setelah tujuh tahun. Ijazah belum pernah dia pake sampe sekarang.Jadi wiraswasta emang kadang bikin deg2an. Dalam sebulan bs dapet banyak, bisa sedikit, atau bahkan ngga dapet sama sekali. Tapi yakin aja rejeki Alloh yang ngatur, dan kerja sendiri emang lebih enak sih rasanya drpada ikut orang.
ulasannya mantap gan
ada baiknya berwiraswasta
Mantap gan,
semangat aja
bdw tuk kalimat ini \”Memaksimalkan uang yang didapat dari keluarga dan dibuang untuk pekerjaan ini.\”
jgn pake kata dibuang dong, lbh baik kata diinvesatasikan buat kerjaan ini spy bs menghasilkan return :p
Buat yg udah bosen jd pegawai selamat mencoba……resiko tanggung sediri…..
mantep bener gan… terus semangat berwirausaha n jangan lupa berbagi
Yang enak kalau jadi Boss, tapi punya usaha
Jadi yang namanya karyawan kata siapa nggak bisa jadi usahawan
Ya iya dong… berdiri mah di atas kaki sendiri…
Kalu berdiri di atas kaki orang, kurang ajar itu namanya mas… Hehe
Salam ^_^
enterpreneur itu memang seperti itu, mulia, tapi terkadang tak dianggap
ahhh yang penting berkecukupan aja deh dan jangan lupa bersyukur ata nikmat dan hikmah yang diberikannya..
Zaman sekarang emang mesti wirausaha, tpi akan lebih banyak dapetnya kalau jadi pegawai + wirausaha..
siipp..gunakan waktu sebaikmungkin,,karena tidak akan pernah kembali…
sukses dan semangat terus ya ^_^
serius mba, wah ajarin dunk
makasih semangatnya juga
salam dan terimakasih sama suaminya yg kmren udah datang ke acara dotsemarang
Terimakasih
salam kenal
haha, iya maaf
tapi keren gitu biar gk dibilang ikut2an
hihi,,,
makasih mas romi
terimakasih mas
salam blogger
seharusnya sih, seperti itu
haha..
ada2 saja..
makasih ya
hihi
terimakasih
aminnnnn
makasih
setuju, nah, itu dia,, banyak orang yang gk mencobanya
Semangat enterprenuer sepertinya tdk terdapat pd semua orang. Ada juga yg sepertinya \”dicetak\” untuk bekerja sebagai karyawan. Jadi kedua hal ini tidak dapat dibandingkan. Yang penting, kita betul2 bisa mengoptimalkan semua potensi dan bakat yg diberikan Tuhan kepada kita.
Kata2 mutiaranya sederhana, tapi sangat menarik.
Chairul Tandjung juga punya prinsip yg sederhana & menarik, salah satunya adalah \”Jangan melihat rejeki orang lain, lihatlah dan usahakanlah rejekimu sendiri\”. Prinsip ini mendorong kita untuk tetap fokus pd usaha yg sdg kita lakukan. Bravo.
http://delovender.bandung-guesthouse.com
Hmm, sya kurang stuju dgn kata \”di cetak\” mas, hehe. karena mnurut saya ini malsah \”Mau\” atau \”Tidak mau\”. biasanya yg jadi karyawan sudah nyaman di titik aman, sehingga dia malas alias \”tidak mau\” berwiraswasta…
dan potensi memang benar semua punya potensi yg sama. masalahnya \”Mau\” apa \”tidak mau\”. hehe. salam kenal
salam kenal gan !