
Berita yang ada di surat kabar harian di Semarang, bukan saja menambah pikiran negatif saya terhadap perkembangan sarjana terdidik yang lulus dengan sebuah kebanggaan. Tapi menambah beban banyak orang dan terkesan sarjana tersebut sangat sulit mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Berita itu dituliskan seperti ini, “masih banyak ribuan sarjana terdidik yang masih belum mendapatkan pekerjaan”.
.
Ada apa sebenarnya dengan masyarakat kita? Apa yang salah dengan sistem perkuliahan? Atau manusia nya sendiri yang terlena bahwa tujuan kuliah hanyalah untuk mendapatkan title. Sudahlah. Ini nggak akan habis dibahas bila saya menuliskannya. Beberapa minggu lalu, saya bertemu teman lama. Dia teman seangkatan dan satu kelas di kampus. Ada yang beda saat pertemuaan waktu itu. Apa-apa…?
.
Tubuhnya sedikit gemuk. *pangling*. Yah, kawan saya ini memang udah lulus kuliah dan tergolong pintar *saya belum lulus. Bukan masalah itu yang saya khawatirkan, tapi kenapa orang yang sepintar itu harus menghabiskan waktu bekerja di kampus. Itu artinya, ia kembali lagi ke kampus. Dari kampus untuk kampus. Jika dipikirkan sejenak, kawan saya memang mencari zona aman untuk kehidupannya. Saya tak menyalahkan dengan keputusannya. Tapi, kenapa ia tak mau keluar dan berani membuat pekerjaan dari kemampuannya itu sendiri.
Mudahnya berwirausaha di Internet
Mungkin cerita diatas hanyalah bagian kecil yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Dan parahnya, banyak mahasiswa di doktrin hanya untuk mengejar title dan ijazah. Padahal, selama kuliah, itulah kehidupan yang sesungguhnya bisa dilakukan dan dicari. Mandiri, bekerja keras dan rela berkorban adalah harga mati untuk mahasiswa dan mahasiswi yang ingin menjadi manusia sesungguhnya.
.
Bayangkan, para pengusaha di Indonesia dan bahkan di dunia yang sukses membangun kerajaan bisnisnya, banyak yang tak menyelesaikan kuliahnya. Apakah karena alasan fokus atau tak ada biaya. Yang jelas, seperti merekalah hidup seseorang bisa dinamakan nikmat. Sekarang, era modern telah menjamur di masyarakat. Pasti tak asing lagi kita mendengar istilah “entrepreneur” yang begitu di gembor-gemborkan para pelaku usaha dan pemerintah. Tujuannya satu, agar tak ada lagi sarjana yang menganggur.
.
Berkaca sedikit dengan perkembangan internet, kini sekitar 50 juta masyarakat di Indonesia sudah terhubung alias pengguna internet. Jika alasannya dulu adalah perangkat, kini tak ada lagi batasan yang mampu menahan gelombang masyarakat anti lelet. Dari ponsel, masyarakat bisa memanfaatkan internet dengan tujuannya masing-masing.
.
Lihat saja perekonomian bangsa kita yang semakin naik dibandingkan tahun-tahun lalu. Bahkan, Internet menyumbang beberapa persen untuk pemasukan devisa negara ini. Lalu, ada pula perkumpulan pengusaha yang memiliki perusahaan kini mulai terjun dengan serius memanfaatkan social media untuk memajukan usaha mereka.
.
Perkembangan internet pun bukan saja membuat para pengusaha besar berpaling, tapi pengusaha kecil pun mulai memikirkan peluang memanfaatkan internet. UKM-UKM semakin tumbuh subur di Indonesia. Jangan heran, jika penguasa jagad dunia maya, GOOGLE, berani bekerjasama dengan UKM-UKM yang ada di Indonesia. Mereka saja sanggup ber-investasi kepada pengusaha, masa pemerintah sendiri tidak mau. Masihkah, saya harus memberikan contoh lebih banyak?
.
Berwiraswasta atau berwirausaha identik dengan sebuah produk dan tempat, namun di jamannya ada internet sekarang, siapapun bisa menggunakannya. Baik sebuah kelompok maupun perorangan. Saya kenal dengan beberapa orang yang memanfaatkan internet untuk memeperluas rejeki mereka. Seperti pakde Blontank yang memanfaatkan twitter untuk memasarkan produk teh-nya yang dikenal dengan nama blontea.
.
Kini, produk itu sudah ada di gerai-gerai bandara yang ada di Indonesia. Namun, jangan harap untuk bisa memesannya untuk mencarinya langsung, tapi dengan cara mudah, blontea bisa didapatkan lewat twitter. Lain pula dengan yang dilakukan seorang tukang becak di Jogja. Hanya lewat facebook, Harry, yang terkenal dengan sebutan Harry Van Jogja, memberikan layanan jasa becaknya kepada turis mancanegara hanya lewat internet.
.
Jangan lupakan pula fenomena kripik “maicih” yang laris manis hanya lewat jejaring sosial. Meski kini, banyak produk yang sama sudah mengkopi-nya. Tak heran, kini persaingan makin besar dan siapapun bisa menangkap peluang yang pertama ialah yang akan menjadi trendsetter. Jangan sampai ide seperti ini harus ditunggu hingga benar-benar siap. Sampai kapan?
.
Itulah segelintir orang yang sukses yang ada disekitar saya yang memanfaatkan internet untuk berwirausaha. Andaikan teman saya itu berani keluar dari zona nyaman, dan memulai bisnis dari internet, saya yakin ia bisa lebih dari sekarang. Memang tak mudah, tapi hari-harinya untuk sebuah perjuangannya pasti lebih dapat dinikmati.
.
Net-preneurship kini menjadi gaya baru dalam berwiraswasta. Hanya mengandalkan internet, siapapun dengan mudah dapat melakukannya. Tergantung sampai mana ia tahan banting bekerja dengan sungguh-sungguh. Mencari pasar hanya lewat jejaring sosial, membuka toko cukup hanya menggunakan laman website atau blog. Terhubung dengan konsumen cukup hanya lewat ponsel. Yah, sekali lagi net-preneurship itu mudah kok, tinggal bagaimana memahaminya.
.
Salam blogger
.

Asmari
Founder dotsemarang
Twitter : @ASMARIE_
Fb : https://www.facebook.com/asmariedexter
Email : arie.bechkam at gmail.com
Hp : 085694553434
Skype : asmari.dexter
.
**lomba MissTrader Blog Competition










nyaman dgn zona aman sebetulnya gpp, itu hanya pilihan
… as long bs menikmatinya
[Reply]
asmarie Reply:
Februari 26th, 2012 at 19:47
hihi.. sama2 artinya gak mau kluar dari zona nyaman
[Reply]
Tetapi banyak juga yang melakukan penipuan dengan berkedok bisnis di internet. Perlu pemahaman yang lebih untuk bisa berhasil sebagai Netpreneur…Salam
[Reply]
asmarie Reply:
Februari 26th, 2012 at 20:19
setuju
terimakasih udah berbagi disini
[Reply]
Yeaay selamat bro udah menangin contest nya :D.
[Reply]