Menjadi Bapak Rumah Tangga (BRT), Ada Yang Mau?

13 Jan 2012

Pria yang senang membantu istri itu biasa, lelaki yang pandai memasak itu juga udah jamak. Bapak rumah tangga itu baru luar biasa. Inilah kisah suami yang punya persepsi menarik soal maskulinitas dan berani bertukar peran dengan sang istri tercinta. Di Indonesia ada juga keluarga yang menerapkannya.

.

Kalimat pembuka diatas itu merupakan bagian artikel dari majalah intisari yang terbit bulan Desember 2011. Saya mulai menyukai majalah ini, baru-baru saja meski sering melihat covernya di toko buku.

Sedikit menggelitik dan pasti banyak orang yang tidak setuju terutama kaum ibu-ibu terlebih mertua jika mengetahui nasib anaknya punya suami yang kerjaannya hanya dirumah. Apa kata tetangga nantinya? *pikirkan, sebelum saya menjadi bahan lemparan sendal dan cemooh teman-teman saya, karena pacar aja nggak punya malah provokasi tentang ini, lebih baik baca dulu selengkapnya dibawah ini.

.Mungkin judul diatas sudah banyak di temukan di google. Tapi, setidaknya saya ingin juga mencatatkan nama saya ada di google. Selain itu, pekerjaan saya sebagai blogger akan merujuk apakah menjadi seperti ini nantinya di tahun-tahun selanjutnya.

Segelas kopi yang saya minum, memang banyak merek yang sama. Tapi, rasanya berbeda-beda. Saya hanya ingin nyampaikan informasi saja dengan cara berbeda. Sapa tahu ada wanita yang mau menjadi istri saya dari tulisan ini *keplak! :D

Sri Mahamat Maaji bukan suami takut istri. Malah kita boleh berkenalan dengannya sebagai lelaki Indonesia yang berani mendobrak nilai tradisional pembagian peran dalam keluarga.

Di keluarganya peran suami istri dibagi begini : istri berkarier di kantor dan suami menjadi bapak rumah tangga (BRT) alias stay at home dad (SAHD).

Dalam artikel majalah Intisari tersebut, ia tinggal di Yogyakarta, lulusan Universitas Negeri Yogyakarta, dan memiliki istri yang bernama Wiwin Pratiwanggani, seorang kayawati swasta.

Sejak tahun 2002, Ahmat menangani lebih dari 75% pekerjaan rumah tangga mereka. Dia mengantar istrinya ke kantor dan menjemputnya mengurus anak selama istrinya bekerja, menemani anaknya belajar, memasak, membersihkan rumah dan terkadang juga mencuci baju.

Aneka tugas domestik yang identik dengan pekerjaan para ibu rumah tangga lancar saja di tangannya. Bahkan, sang istri pun memuji keterampilannya. Satu hal yang harus digarisbawahi : suami saya jago memasak!” kata sang istri.

Lalu apa pekerjaan sebenarnya si suami? Ia bekerja secara lepasan sekaligus seorang network marketer. Keputusan mereka berdua ini jelas sebuah terobosan untuk masyarakat kita. Yang lebih hebat, mereka bangga menjalaninya. Stay-at-home dad, kenapa harus takut dan malu.

.Itu adalah contoh dari orang yang berasal dari negeri kita sendiri. Di luar sana, seorang yang bernama Jeremy Adam Smith, bapak rumah tangga yang populer di AS mendirikan grup blog DADDY DIALECTIC ( http://daddy-dialectic.blogspot.com ).

Blog ini menjadi tempat berbagi para ayah era abad ke-21 dalam hal pengasuhan dan pengurusan rumah tangga. Saat saya membukanya, tampilan blognya sederhana. isinya sangat panjang-panjang dan menariknya ada alamat blog rekan-rekannya yang ia taruh di widget. Lumayan banyak.

Berbeda pula di Australia, kurang dari 1% suami di Australia adalah bapak rumah tangga. Di Korea Selatan pada 2007 terdapat sekitar 5.000 suami menjadi bapak rumah tangga. Inggris pada 1993 memiliki 200.000 ayah yang menjadi SAHD.

Sedangkan di Amerika Serikat, banyak pria juga berani memeilih peran yang serupa dengan Ahmat. Christian Collins, kontestan dalam Master Chef US musim kedua, adalah salah satunya.

Pria gondrong asal Gloucester, Massa-chusetts, yang berkumis dan bewok ini terang-terangan menyatakan sebagai SAHD, Dia memasak dan mengurus sendiri anak-anaknya.

Keputusan menjadi SAHD umumnya didasarkan atas pertimbangan rasional suami-istri. Dr. Robert Frank, asisten profesor psikologi di Oakton Community College, Chicago, yang juga pernah menjadi bapak rumah tangga dan pernah melakukan penelitian tentang hal ini menyatakan demikian.

Kebanyakan pria melakukannya bukan karena di-PHK atau “kalah bersaing” di dunia kerja. Hanya 25% yang melakukannya karena hal tersebut, sedangkan sisanya secara sadar menginginkan peran ini.

Saya pernah mencoba bertanya kepada teman-teman saya khususnya beberapa wanita disekitar saya. Rata-rata jawaban mereka menolak dengan tegas apa yang saya sampaikan.

Apa jadinya dan itu ganjil buat mereka. Dan pandangan salah satu teman mengatakan, lebih baik saya aja yang dirumah daripada melihat suami tinggal dirumah.

Saya sendiri terkekeh dengan budaya kita yang sangat melekat di era modern ini khususnya teman saya. Ya, saya menganggapnya wajar mengingat tradisi sudah sangat mengikat banyak orang Indonesia.

Di era modern ini, dengan pekerjaan saya sebagai blogger, tentu ini akan mengarah kesana. Saya lebih suka kerja di rumah daripada duduk manis dikantor hanya untuk berpikir mendapat gaji yang pasti tiap bulan.

Itu pikiran saya, nggak semua laki-laki disini mau melakukannya. Tantangan terberat menjadi bapak rumah tangga itu adalah nilai-nilai tradisional yang udah melekat. Sama dengan cerita teman saya diatas.

Lelaki yang memegang kuat nilai maskulinitas tradisional (yang memosisikan ayah sebagai penanggung keluarga, harus bekerja, harus diladeni istri dan anak-anak, serta tak perlu mengurus rumah) akan tersiksa menjadi bapak rumah tangga.

Umumnya lelaki Indonesia seperti ini. “Gajinya lebih kecil sedikit dari istrinya saja sudah tersiksa,” kata Nina.

Apalagi jika harus berhadapan dengan orang tua sendiri. Yaudah deh, akan gimana gitu. Namun, banyak juga kok ayah di kota besar yang berpendidikan tinggi dengan pergaulan terbuka bersedia berperan lebih besar dalam pengasuhan anak. Ini adalah nilai-nilai maskulinitas yang modern.

“Kalau dia menganut maskulinitas modern, dia tidak akan menganggap ini sesuatu yang nista, tetapi sesuatu yang sama berharganya dengan ibu rumah tangga.

Berdasarkan penelitian Nina hingga 2011, para ayah di kelas menengah Jabodetabek memandang keterlibatan mereka dalam pengasuhan anak lebih penting ketimbang nilai maskulinitas yang mereka anut. Hal ini akan membuat mereka lebih siap menjadi bapak rumah tangga.

Kata mba Nina ini, tetap menekankan bahwa keputusan menjadi bapak rumah tangga harus lahir dari keputusan bersama suami-istri, bukan dari suami saja. Dengan begitu, istri dapat memberi dukungan penuh kepada suaminya.

Ini akan membuat lelaki lebih bahagia menjalani peran barunya, terutama dalam menghadapi pandangan maskulinitas dari keluarga besar dan masyarakat sekitarnya.

Ada yang mau menjadi bapak rumah tangga (BRT) atau terkenal dengan bahasa inggrisnya, stay at home dad (SAHD). Semoga informasi ini bermanfaat. Terimakasih.

Sumber
Majalah Intisari Desember 2011

.Salam blogger

.


TAGS LifeStyle Laki-laki


-

Author

Search

Recent Post