Paradigma Jurusan Teknik Informatika
8 Juli 2011 oleh asmarie

Banyak orang beranggapan dunia TI adalah ladang uang. Dengan bekerja di sebuah perusahaan dengan label TI, seseorang yakin akan mendapatkan penghasilan perbulan diatas rata-rata, posisi yang lumayan keren dalam perusahaan dan sebagainya. Inilah pekerjaan yang sangat favorit untuk 10 tahun kedepan. Benarkan? Lalu sesuaikah dengan paradigma tersebut?
Hari ini adalah hari terakhir ujian akhir semester yang gue ikutin. Bukannya lega karena ujiannya telah usai, tapi otak gue ingin rasanya menuangkan isi uneg-uneg dalam hati gue mengenai jurusan TI ini atau Teknik Informatika. Aneh rasanya jika melihat kedepan dalam dunia pekerjaan, orang TI harus belajar hitung-hitungan yang tidak seharusnya.
Pernahkah berpikir jika kita mengendarai sebuah mobil namun salah jurusan. Apa yang kalian pikir? Kembali ke jalur selanjutnya atau terus dan berusaha mencari jalan keluarnya. Banyak paradigma seseorang mengenai jurusan TI salah kaprah. Mereka banyak berpikir tentang hasilnya. Hasil yang sangat menggiurkan untuk bisa menjadi orang sukses dan hidup terjamin.
Selama berkuliah jurusan TI di salah satu perguruan tinggi swasta di Semarang, paradigma ingin jadi pakar TI malah sepertinya salah jurusan. Dunia yang gue gelutin tak sesuai dengan harapan-harapan yang gue pelajarin dan gue lihat. Kebanyakan teori-teori yang hanya bikin otak malas berpikir.
Ditambah pengajar yang hanya memberikan mata kuliah sesuai pengalamannya mempelajari matakuliah yang sama tiap semester baru. Di ulang dan mengulang. Berbeda dengan mahasiswa yang setengah pintar. Mereka sudah rajin dengan mengikuti mata kuliah, namun otak yang sudah pas-pasang tak mampu menyerap apapun yang diberikan. Lalu, salah siapa jika begitu. Mahasiswa atau pengajar?
Gue bukan ingin memberikan pandangan salah terhadap dunia TI. Tapi inilah faktanya yang terjadi selama gue hadapin. Gue harus belajar kalkulus, matematika diskrit dan ujung-ujungnya neraca laba-rugi. Lalu, dimanakah impian gue ketika membayangkan menjadi pakar TI. Semisal pendiri google, Microsoft, dan Facebook. Bahkan anak SMA pun lebih pandai memainkan jaringan ketimbang gue yang berkuliah dibidang TI.
Ketika zaman semakin maju, teknologi semakin maju sudah seharusnya pengajar lebih update daripada mahasiswanya. Bukan mahasiswa yang harus update daripada pengajar. Jika berkaca dengan pengalaman, tentu pengajar akan tidak mau kalah akan ilmu yang mereka terapkan selama ini. Alhasil, pengajar masih tiap tahun membuat peraturan menulis tangan hanya untuk menyelesaikan tugas-tugas. Dengan tujuan mahasiswa tidak asal copy paste terhadap tugas yang diberikan.
Lalu bedanya apa dengan saat mahasiswa menyontek tugas tersebut. Kembali ke konteks sistem informasi yang berbasis teknologi. Beberapa pengajar di sekolah Umum (SMA) bahkan sudah menerapkan teknologi kepada mahasiswanya. Mereka pandai membuat program, robot, sistem jaringan dan sekurity. Sedangkan mahasiswa hanyalah sekumpulan teori yang ujung-ujungnya juga harus mencari ilmu diluar dari jurusan mereka.
Di dalam ruang ujian tadi, gue hanya bisa duduk dengan tenang memandangin kertas yang bertuliskan berapa keuntungan laba dari perusahaan? Lho…lho.. gue bukan anak akuntansi padahal. Oke, gue salah meremehkan mata kuliah ini. Tapi, bagaimana dengan mahasiswa lainnya? Ya dibelakang mereka tak semuanya ternyata mengerti. Sistem contek menyontek pun tetap menjadi budaya. jadi apa bedanya ketika mereka mendapat nilai tinggi tapi kosong otaknya dengan gue nilai rendah tapi banyak ilmunya (praktek dilapangan).
Kesimpulannya, banyak teman gue yang hampir lulus adalah orang-orang yang sangat pintar. Bagi gue mereka sangat hebat, bisa ini dan itu. Gue emang salah ketika menghadapi teori-teori yang diberikan pengajar yang dengan harapan setelah lulus menjadi pakar dibidangnya. Dan tiba-tiba terbentur oleh tembok yang kebanyakan rumus-rumus tak jelas.
Sekarang, jika ditanya kapan gue lulus. Gue hanya bisa menjawab dengan satu alasan, gue ingin ortu gue bahagia. Bukan title sarjana atau menjadi pakar yang gue kejar.
Buat kalian yang ingin masuk dunia TI tetap semangat. Ikutilah prosesnya dan nikmati hasilnya. Jangan pernah berpikir suatu kelak bila lulus dengan title sarjana kalian akan menjadi orang hebat atau mendapat pekerjaan mudah. Satu kuncinya, tugas selalu dikerjakan.







Nama saya Asmari, Ingin tahu lebih lengkap tentang saya, silahkan baca profil lengkap saya 
merinding gue bacanya..
tambah pusing mau milih TI apa nggak,,,